Serba-Serbi Vaksin: AstraZeneca

Pada 8 Maret 2021, vaksin AstraZeneca tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang dan merupakan vaksin gratis dari pemerintah melalui jalur multilateral. Kemudian disalurkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengkaji & menginvestigasi atas penggunaan vaksin AstraZeneca. Kajian tersebut dilakukan bersama Komisi Nasional Penilaian Obat, Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), dan The National Immunization Technical Advisory Group (NITAG). 

Seiring dengan proses vaksinasi sedang dilaksanakan pemerintah, berbagai mitos tentang vaksin kemudian bermunculan di masyarakat. Mulai dari yang cukup lucu sampai yang dapat menciptakan masalah, diantaranya yaitu:

  • Vaksin mengandung zat berbahaya
  • Vaksin berisi microchip
  • Vaksin justru menyebabkan positif Covid-19
  • Vaksin dapat menyebabkan kematian
  • Vaksin menjamin bebas Covid-19 100%

Untuk itu, mari kita lihat terlebih dahulu kandungan vaksin COVID-19 AstraZeneca

  • Bahan Utama

Satu dosis (0,5 mL) berisi: ChAdOx1-S 5×1010 viral partikel (vp)

Vaksin AstraZeneca menggunakan vektor vaksin adenovirus simpanse. Adenovirus ini tidak berbahaya dan lemah, biasanya menyebabkan flu biasa pada simpanse. Vektor vaksin adenovirus, yang dikenal sebagai ChAdOx1, dipilih sebagai teknologi vaksin yang cocok untuk vaksin SARS-CoV-2 karena telah terbukti menghasilkan respons kekebalan yang kuat dari satu dosis dalam vaksin lain.

Vektor ini telah berubah secara genetik sehingga tidak mungkin untuk tumbuh pada manusia. Vektor adenoviral simpanse adalah jenis vaksin yang dipelajari dengan sangat baik, setelah digunakan dengan aman di ribuan subjek. Vaksin AstraZeneca telah terbukti aman dan efektif.

  • Bahan Tambahan (bahan inactive)

Histidine, hidroklorida monohidrasi, natrium klorida, magnesium klorida heksarat, disodium edetate, sukrosa, etanol mutlak, polisorbat 80, dan air untuk suntikan. Vaksin AstraZeneca tidak mengandung pengawet dan stopper botol tidak dibuat dengan lateks karet alam.

Cara Kerja Vaksin

Vaksin bekerja dengan cara membentuk adaptive immune response dengan 2 cara :

  1. Humoral immunity: Menghasilkan antibodi melalui sel B.
  2. Cell mediated immunity: Menghasilkan sel T Sitotoksik untuk mencegah replikasi virus.

Vaksin AstraZeneca akan membentuk respons imun humoral dan seluler (humoral and cell-mediated immunity).

Gambar 1. Cara Kerja Vaksin

Ketika kekebalan individu terhadap Covid-19 telah terbentuk pada 80% populasi, akan terbentuk kekebalan komunitas (herd immunity). Kekebalan ini akan memberikan perlindungan secara tidak langsung pada kelompok yang tidak kebal terhadap Covid-19 sehingga penyebaran virus dapat dikendalikan.

Gambar 2. Cara Kerja Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca merupakan vaksin dengan mekanisme non-replicating viral vector. Vaksin ini menggunakan chimpanzee adenovirus (ChAdOx1) sebagai vektor pembawa gen pengkode protein spike (S) dari SARS-CoV-2 dalam bentuk DNA untuk memicu respons imun tanpa menimbulkan gejala Covid-19. 

Adenovirus (viral vector) akan “ditelan” oleh Antigen Presenting Cell (APC) dan terjadi proses produksi protein spike (S) SARS-CoV-2. Fragmen protein spike tersebut kemudian akan ditampilkan oleh APC di permukaan selnya sehingga memicu adaptive immune response berupa respons imun humoral pada sel B plasma (menghasilkan antibodi) dan sel B memori (sel pengingat agar tidak terjadi reinfeksi) serta respons imun seluler pada sel T Sitotoksik (menyerang sel yang terinfeksi).

Gejala Pasca-Vaksinasi

Wajar apabila terdapat gejala ringan yang timbul sesudah mendapatkan vaksinasi. Gejala tersebut menunjukkan bahwa sistem imun tubuh bereaksi terhadap vaksin yang diberikan. Gejala biasanya akan hilang dalam waktu beberapa hari.

Gejala ringan yang bisa terjadi setelah menerima vaksin COVID-19 adalah

  • Area sekitar tempat disuntik
    • Nyeri
    • Kemerahan
    • Bengkak
  • Seluruh tubuh
    • Lelah
    • Sakit kepala
    • Nyeri otot
    • Nyeri sendi
    • Panas dingin
    • Demam
    • Mual

Gejala serius vaksin AstraZeneca

European Medicines Agency (EMA) and Danish Health Authority menemukan bahwa vaksin Oxford-AstraZeneca telah diikuti oleh insiden penggumpalan darah. Dari 5 juta orang yang menerima vaksin ini, dilaporkan ada 30 kasus pembekuan darah. Satu kasus di Denmark diikuti kematian. Pada 18 Maret 2021, EMA menyimpulkan bahwa vaksin Oxford-AstraZeneca aman dan tidak meningkatkan risiko penggumpalan darah secara keseluruhan.

Untuk mengurangi rasa sakit pada tempat yang disuntik

  • Gunakan handuk atau kain yang bersih, dingin, dan basah pada area yang disuntik
  • Gerakkan lengan yang disuntik

Untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat demam

  • Minum air yang cukup
  • Gunakan pakaian yang nyaman dan ringan
  • Kompres atau mandi air hangat

Jika gejala tidak hilang dalam beberapa hari atau semakin serius, Anda dapat melapor ke Kemenkes RI melalui http://keamananvaksin.kemkes.go.id/index.php/public/home atau ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, dapat diketahui bahwa vaksin AstraZeneca yang bertipe ini telah dinyatakan aman dan efektif oleh BPOM. Namun, masyarakat tetap perlu mematuhi protokol kesehatan karena vaksin belum menjamin terbebas dari Covid-19. 

Jadi, jangan takut untuk divaksin dan selalu patuhi protokol kesehatan!

Tim Penyusun:

Kementerian Riset dan Pengembangan BEM KM UGM X Kementerian Kajian Riset Strategis BEM FK-KMK UGM

Daftar Pustaka

Australian Government Department of Health. 2021. Is it true? Does the Oxford/AstraZeneca vaccine contain animal DNA?. Available at: https://www.health.gov.au/initiatives-and-programs/covid-19-vaccines/is-it-true/is-it-true-does-the-oxfordastrazeneca-vaccine-contain-animal-dna (Accessed: 18 April 2021).

Campbell, N.A., Reece, J., Urry, L.A., Cain, M.L., Wasserman, S.A., & Minorsky, P.V. 2020. Campbell biology. 12th ed. New York: Pearson.

Centers for Disease Control and Prevention (2021). Possible side effects after getting a Covid-19 vaccine. Available at: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/expect/after.html (Accessed: 16 April 2021).

Consumer Medicine Information. 2021. COVID-19 Vaccine AstraZeneca. Available at: https://www.tga.gov.au/sites/default/files/cmi-approved-covid19-vaccine-az.pdf (Accessed: 18 April 2021).

Hall, J. and Hall, M., 2019. Guyton And Hall Textbook Of Medical Physiology. 13th ed. Mississippi: Elsevier.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Apa Itu Herd Immunity (Kekebalan Kelompok) ?. Available at: https://infeksiemerging.kemkes.go.id/uncategorized/apa-itu-herd-immunity-kekebalan-kelompok (Accessed: 17 April 2021).

Satuan Tugas Penanganan Covid-19. 2020. Apa itu Kekebalan Kelompok atau Herd Immunity?. Available at: https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/apa-itu-kekebalan-kelompok-atau-herd-immunity (Accessed: 17 April 2021).

Tortora, G.J., & Derrickson, B. 2016. Principles of Anatomy & Physiology. 1st Asia-Pacific ed, Queensland: John Wiley & Sons Australia, Inc. 

World Health Organization. 2021. Side effects of Covid-19 Vaccines. Available at: https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/side-effects-of-covid-19-vaccines (Accessed: 16 April 2021).

World Health Organization. 2021. Update on Covid-19 Vaccine & Immune Response.  Available at: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/risk-comms-updates/update52_vaccines.pdf?sfvrsn=b11be994_4 (Accessed: 15 April 2021).

Leave a Reply

Your email address will not be published.